ART | SURABAYA | 2026
Di atas meja, sejarah Surabaya hadir dalam bentuk yang tidak biasa: sempol ayam yang menyerupai pocong, jamu yang diolah menjadi hidangan pencuci mulut, serta bercak bumbu makanan tusuk yang dibingkai dan dipajang di dinding. Dalam Kenduri: Kacuk Makna & Rasa, seniman Malaysia Ammar Idris mengajak pengunjung membaca sejarah bukan melalui arsip dan monumen semata, melainkan melalui sesuatu yang paling dekat dengan keseharian: makanan, rasa, dan pertemuan di meja makan.
Program tersebut merupakan final program dari residensi Ammar selama satu bulan di RENTANG Art Lab, yang dilaksanakan di C2O pada 18 Juli 2026. Didirikan pada tahun yang sama, RENTANG merupakan inisiatif pertama di Surabaya yang secara khusus didedikasikan untuk program residensi seni kontemporer internasional. Alih-alih memandang residensi sebagai ruang untuk menarik diri sementara dari rutinitas sehari-hari, RENTANG menempatkannya sebagai proses mendalam untuk hidup, melakukan penelitian, dan berkarya di tengah realitas material dan sosial sebuah kota.
RENTANG berfungsi sebagai semacam rumah konseptual: ruang untuk dialog, pertukaran, dan eksperimen artistik lintas budaya. Dalam proses tersebut, seniman residensi tidak hanya dipertemukan dengan ruang kerja, tetapi juga dengan kota sebagai medan penelitian.
Ammar Idris (l. 1999), seniman multidisiplin asal Malaysia, menjadi seniman pertama yang menjalani program residensi tersebut. Praktik artistiknya berakar pada eksplorasi terhadap cara-cara alternatif dalam berpikir dan berkarya. Ingatan atau memori serta lanskap emosional kerap menjadi bagian penting dalam praktiknya. Karya-karyanya menghadirkan keseimbangan reflektif antara konsep dan emosi, ketika narasi personal beririsan dengan tema sosial dan budaya yang lebih luas.
Selama berada di Surabaya, sejarah menjadi salah satu pintu masuk Ammar dalam membaca kota. Sebagai kota yang lekat dengan narasi perjuangan kemerdekaan dan dikenal sebagai Kota Pahlawan, Surabaya menawarkan lapisan sejarah yang tidak hanya dapat ditemukan melalui bangunan, monumen, maupun arsip, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari yang terus berlangsung.
“Kami ingin merespon ruang-ruang yang memiliki nilai-nilai spesifik seperti C2O. Ruang seperti C2O ini sering digunakan oleh para seniman yang praktik artistiknya berat dengan riset. Di sini (RENTANG), para seniman residensi akan mendapatkan fasilitas mulai dari perpustakaan, co-working space, dukungan kuratorial, dan asisten residensi. Kami juga ingin lebih fokus terhadap program yang berfungsi menjadi inkubator bagi seniman,” ujar Danny Hartanto, salah satu pendiri RENTANG.


Dari sejarah, Ammar kemudian melihat Surabaya melalui lensa yang lebih dekat dengan tubuh dan keseharian: kuliner. Dalam proses risetnya, ia menemukan bahwa sejumlah elemen yang hadir dalam kehidupan pada masa perjuangan kemerdekaan masih dapat ditemukan dalam kehidupan hari ini, meski sebagian telah berubah bentuk dan makna.
Jamu, misalnya, pada masa perjuangan kemerdekaan digunakan sebagai bekal untuk memberi tenaga kepada para pejuang. Hari ini, jamu masih dikonsumsi, tetapi juga telah mengalami pergeseran makna menjadi bagian dari gaya hidup. Sementara itu, bambu runcing yang lekat dengan narasi perjuangan dibaca Ammar melalui bentuk yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian: tusukan bambu pada jajanan seperti sempol.
Dari pembacaan tersebut, makanan tidak lagi sekadar menjadi makanan. Ia menjadi semacam residu sejarah—sesuatu yang tersisa, bertahan, dan terus mengalami perubahan di dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan itu kemudian diterjemahkan Ammar melalui dua hidangan utama: Sempol Pocong dan Es Jace.

Sempol Pocong merupakan sempol ayam yang dibalut dengan kertas beras hingga menyerupai pocong. Pemilihan nama tersebut berangkat dari pengamatan Ammar terhadap kebiasaan di Indonesia dalam memberikan nama-nama yang lucu atau jenaka pada berbagai jajanan. Di sisi rasa, ia memasukkan sedikit bawang merah dan kucai yang terinspirasi dari Cucur Udang, salah satu kuliner yang ia kenal dari Malaysia.
Sementara itu, Es Jace merupakan modifikasi dari jamu beras kencur dan sinom. Kedua jamu tersebut diolah menjadi semacam jelly, kemudian disajikan bersama kuah santan, sirup mawar, dan cendol. Modifikasi tersebut dilakukan Ammar untuk menghadirkan jamu dalam bentuk yang lebih mudah diterima oleh lidah masa kini. Ia menyadari bahwa sebagian orang enggan mengonsumsi jamu karena membayangkan rasa pahit yang menyertainya. Dengan mengubah bentuk dan penyajiannya, Ammar berharap jamu dapat dikonsumsi dengan pengalaman yang lebih menyenangkan.
Namun, percampuran dalam Kenduri: Kacuk Makna & Rasa tidak berhenti pada bahan dan rasa. Kata “kacuk” sendiri berarti sesuatu yang bercampur-aduk. Dalam praktik Ammar, istilah tersebut juga menjadi cara untuk mempertemukan pengetahuan yang ia peroleh dari sejarah dan budaya Surabaya dengan latar belakangnya sebagai orang Malaysia.
Dua latar kebudayaan tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah, melainkan saling bersinggungan melalui makanan. Sempol Surabaya bertemu dengan referensi rasa dari Malaysia. Jamu tradisional berubah menjadi hidangan pencuci mulut. Sejarah perjuangan dibaca melalui makanan yang dikonsumsi hari ini.
“Ada dua hal yang mendasar dari final program Ammar yang dipresentasikan hari ini. Yang pertama adalah bahwasannya sejarah, khususnya sejarah di Surabaya, tidak hanya hidup di dalam arsip. Akan tetapi, sejarah juga berdenyut dalam praktik-praktik keseharian yang terus diwariskan. Yang kedua, Ammar mengingatkan kita bahwasannya makanan, percakapan, dan pertemuan itu bisa membuat semacam ruang di mana ingatan, identitas, dan pengalaman kolektif bisa terus dinegosiasikan,” ujar Dimas Tri Pamungkas selaku kurator final program ketika membuka jamuan makan.
Karena itu, bentuk jamuan makan menjadi penting dalam presentasi ini. Alih-alih menempatkan karya sebagai objek yang hanya diamati, Ammar menghadirkannya sebagai sesuatu yang dikonsumsi bersama. Sejarah kemudian tidak hanya dibicarakan, tetapi juga masuk ke dalam tubuh melalui makanan, sambil dinegosiasikan melalui percakapan yang berlangsung di antara orang-orang yang duduk di meja yang sama.
“Bagi saya, makanan itu bukan hanya sesuatu untuk memenuhi perut saja. Akan tetapi, makanan juga membawa narasi atau sejarah tersendiri. Dengan cara (jamuan makan) ini, interaksinya jadi lebih natural. Kita appreciate sejarah dengan cara mensyukuri makanan yang kita makan, kalau kita masih hidup di sini,” ujar Ammar dalam percakapan santai selama jamuan makan.
Selain Sempol Pocong dan Es Jace, Ammar menghadirkan dua bentuk karya lain yang berasal dari proses risetnya selama berada di Surabaya.
Beberapa karya dua dimensi dibingkai dan dipajang di dinding dengan judul Berjejak Pacak Bertusuk Waktu. Karya-karya tersebut menggunakan bercak asli dari bumbu makanan-makanan tusuk yang ia temukan di berbagai tempat di Surabaya. Alih-alih mendokumentasikan makanan melalui fotografi atau catatan tertulis, Ammar menjadikan bekas makanan itu sendiri sebagai material dokumentasi. Bercak yang biasanya hilang setelah makanan disantap justru dipertahankan sebagai jejak.

Di ruang yang sama, arsip visual menampilkan perjalanan risetnya ke jalanan, toko-toko jamu, Tugu Pahlawan, dan berbagai tempat lain yang ditemuinya selama berada di Surabaya. Catatan-catatan personal turut diselipkan di dalamnya, termasuk sajak yang memadukan bahasa Indonesia dan Malaysia dengan pendekatan yang lebih puitis.
Jika karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana Ammar mengumpulkan dan mengolah jejak kota, jamuan makan menjadi ruang tempat jejak tersebut kembali dihidupkan melalui pengalaman bersama.
Namun, pembacaan terhadap sejarah dalam Kenduri tidak hanya datang dari perspektif Ammar. Pada pembukaan final program, Perempuan Pengkaji Seni menghadirkan performance art berjudul The Ghost We Share at The Table, yang ditampilkan oleh Acha.
Dalam pertunjukan tersebut, Acha menyantap nasi yang tersaji di hadapannya sembari menyebut nama-nama secara perlahan hingga makanan tersebut habis.
Pertunjukan itu memperluas pertanyaan tentang sejarah yang sebelumnya dibawa Ammar melalui makanan. Jika Ammar melihat makanan sebagai medium yang membawa narasi sejarah, Acha menghadirkan meja makan sebagai ruang untuk mengingat mereka yang namanya mungkin tidak selalu hadir dalam narasi sejarah yang dominan.
“Kalau sejarah biasanya membahas soal pejuang seperti orang-orang yang datang, berangkat ke medan perang, nama-nama yang kami hadirkan di sini adalah sosok-sosok perempuan yang mendukung perang dari balik layar,” ujar Acha.
Di titik ini, meja makan menjadi lebih dari sekadar tempat berlangsungnya sebuah jamuan. Ia menjadi ruang tempat sejarah, ingatan, identitas, dan pengalaman kolektif kembali dipertemukan. Makanan yang dimakan, nama yang disebut, percakapan yang berlangsung, hingga bekas bumbu yang tersisa di atas kertas menjadi bagian dari cara lain untuk memahami masa lalu.
Melalui Kenduri: Kacuk Makna & Rasa, Ammar tidak mencoba menghadirkan kembali sejarah Surabaya secara utuh. Ia justru melihat bagaimana sejarah dapat meninggalkan sisa-sisa kecil dalam kehidupan sehari-hari: pada rasa jamu, tusukan sempol, kebiasaan memberi nama pada jajanan, atau bahkan pada makanan yang disantap bersama.
Sejarah, dalam pengertian tersebut, tidak selalu berada jauh di belakang kita. Ia mungkin telah berubah bentuk, berganti rasa, dan hadir tanpa kita sadari di atas meja makan.
Leave a comment