Membaca Ulang Amang Rahman Melalui Konsep Emanasi di Segue 3

ART | EXHIBITION | SURABAYA | 2026

Fenomena terputusnya rantai informasi mengenai para maestro seni rupa Surabaya dengan sebagian besar generasi mudanya saat ini, memicu Orasis Art Space untuk terus konsisten—tidak hanya hadir sebagai galeri, melainkan juga bertransformasi sebagai penjaga ingatan. Komitmen ini diwujudkan melalui Segue, sebuah program tahunan yang kini telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya.

Perjalanan ini dimulai pada tahun 2024 melalui Segue #1: O.H. Supono – Supercuts of Life, yang menyoroti kekuatan komposisi dan garis ekspresif spontan sang maestro. Estafet ingatan tersebut berlanjut di tahun 2025 dengan Segue #2: Lim Keng – Breath of Lines, yang menampilkan sketsa-sketsa Lim Keng yang dipresentasikan berdasarkan pengelompokkan waktu, menjadi 5 (lima) dekade: 1960-an, 70-an, 80-an, 90-aan, dan 2000-an, sebuah perayaan atas ketekunan sketsa yang menangkap denyut momen secara langsung.

Memasuki babak ketiga di awal tahun 2026, Segue melangkah ke ranah yang lebih kontemplatif. Kali ini, sorotan jatuh pada sosok Amang Rahman Jubair, seorang seniman serbabisa dan salah satu pendiri Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA) serta Dewan Kesenian Surabaya yang jejak artistiknya melampaui kanvas, menyentuh kedalaman puisi, dan filsafat spiritual melalui pameran bertajuk “Emanasi”.

Judul “Emanasi” sendiri membawa kita pada diskursus filsafat tentang alam semesta sebagai pancaran ilahiah. Alih-alih melihat ciptaan sebagai sesuatu yang muncul dari ketiadaan, teori yang dikembangkan Plotinus hingga Ibnu Sina ini meyakini adanya limpahan wujud yang mengalir secara hierarkis dari Sang Absolut. Cahaya inilah yang kemudian coba ditangkap oleh kurator Heru Hikayat dalam setiap pendaran warna pada kanvas-kanvas Amang Rahman.

Heru menerjemahkan teori ini ke dalam gejala visual yang konsisten dalam karya Amang. Baginya, objek-objek dalam lukisan Amang—baik itu pohon, sosok manusia, maupun kaligrafi—bukanlah sekadar bentuk abstrak, melainkan sebuah abstraksi yang seolah-olah selalu berpendar. Objek-objek tersebut tampak mengandung zat ilahiah yang membuatnya memancarkan cahaya dari dalam, sejalan dengan keyakinan Amang bahwa segala makhluk di semesta ini merupakan serpihan kecil dari pusat tata surya yang sama, yaitu Tuhan.

Pencarian akan zat ilahiah ini secara spesifik mewujud dalam pilihan warna biru yang dominan pada kanvas-kanvasnya. Bagi Amang Rahman, surga dibayangkan berwarna biru—namun biru yang ia maksud bukanlah biru yang lazim ditemui di dunia. Warna biru dalam lukisannya adalah sebuah proses pencarian spiritual yang personal; sebuah upaya untuk menangkap ‘warna surga’ yang melampaui batas penglihatan manusia biasa.

Karena Amang Rahman adalah salah satu seniman yang sudah banyak diteliti, dalam mengelompokkan karya-karya Amang Rahman, Heru Hikayat memilih untuk membacanya dengan sepolos mungkin berdasarkan karakter visual dan narasi yang melingkupinya, alih-alih menggunakan periodisasi yang kaku. Secara garis besar, pengunjung akan menemukan dua kategori utama dalam ruang pamer. Pertama, deretan karya kaligrafi dengan abstraksi bentuk, di mana huruf-huruf Arab tidak lagi hadir sebagai teks fungsional, melainkan menjelma menjadi komposisi puitis yang menyatu dengan pendaran cahaya khas Amang.

Karya kaligrafi Amang Rahman

Kategori kedua mencakup karya-karya simbolik dan surealistik yang menampilkan objek abstraksi yang masih bisa dikenali—seperti pohon, figur manusia, atau rembulan—namun hadir dalam suasana yang tenang sekaligus misterius.

Karya abstraksi bentuk Amang Rahman

Narasi pameran ini pun diperkuat dengan sebuah lini masa kehidupan yang tidak berhenti pada tahun wafatnya di 2001, melainkan terus memanjang hingga kini; sebuah bukti bahwa penghormatan terhadap Amang masih terus berdenyut dalam ekosistem seni rupa Indonesia. Tepat di bagian tengah ruangan, terdapat meja panjang berisi arsip bibliografi—sebagian besar merupakan jasa Henri Nurcahyo dalam mengumpulkan data—yang menjadi fondasi untuk membaca ulang sosok Amang. Meski arsip fisik ini tidak dapat disentuh, pengunjung tetap dapat menelusuri isinya melalui monitor digital yang tersedia di dinding. Di ruangan lain, dimensi personal Amang Rahman semakin terasa nyata melalui video wawancara antara tim riset Segue 3 dengan almarhum Bapak Yunus Jubair, putra kedua sang maestro, yang menjadi kepingan penting dalam menelusuri laku hidup Amang.

Lini masa kehidupan Amang Rahman di dinding dan arsip bibliografi riset di atas meja

Namun, kerja pengarsipan dalam Segue #3 ini tidaklah tanpa kendala. Heru Hikayat secara terbuka menyampaikan dilema kuratorial yang sering dihadapi saat menangani karya seniman yang telah tiada: kondisi fisik karya yang tidak selalu layak pamer. Beberapa karya dari “periode gelap” Amang Rahman yang lebih depresif, misalnya, terpaksa absen dari dinding galeri karena berbagai pertimbangan.

Di tengah keterbatasan tersebut, tim riset yang digawangi Nabila Warda Safitri berhasil menghadirkan sebuah kepingan emosional: lukisan terakhir Amang Rahman dari tahun 2001 yang belum selesai. Meski kondisinya kurang prima, keputusan untuk tetap memamerkannya menjadi sangat krusial. Melalui kanvas yang belum tuntas itu, pengunjung justru diajak mengintip lapisan-lapisan proses kreatif dan pendaran warna sebelum benar-benar matang—sebuah saksi bisu dari hari-hari terakhir sang maestro sebelum wafat selepas subuh, tepat seperti yang pernah ia “ramalkan” dalam puisinya tahun 1972.

Kerja pengarsipan ini pun pada akhirnya melampaui sekadar pameran fisik di dinding galeri. Bagi Deby P. Dewi, Managing Director Orasis Art Space, mengawal program Segue layaknya menyusun kepingan puzzle sejarah seni Surabaya yang sempat terputus akses informasinya. Pameran ini hanyalah sebuah pemantik; sebuah awal dari proses digitalisasi data yang bertujuan agar siapa pun—baik peneliti, mahasiswa, maupun publik luas—dapat mengakses rekam jejak para maestro di masa depan tanpa harus memulai dari nol.

Ke depan, hasil riset dari rangkaian Segue pertama hingga ketiga ini rencananya akan dibukukan, memastikan bahwa keringat para peneliti seperti Nabila Warda dan dedikasi penjaga memori seperti Henri Nurcahyo memiliki wadah yang permanen. Melalui “Emanasi”, Amang Rahman tidak hanya hadir kembali melalui pendaran cahayanya, tetapi juga melalui data dan arsip yang kini lebih terjaga. Sebuah upaya tulus untuk memastikan bahwa jejak para raksasa kebudayaan Surabaya tidak lagi memudar, melainkan terus memancar dan menerangi generasi-generasi seniman yang akan datang.

Menghidupkan narasi pameran tidak hanya dilakukan melalui pajangan statis, tetapi juga melalui rangkaian program publik yang interaktif. Pada 7 Februari 2026, sebuah sesi Curatorial Talk bersama Heru Hikayat telah digelar untuk membedah lebih dalam konteks historis dan gagasan di balik “Emanasi”. Selain itu, pengunjung juga diajak terlibat langsung dalam praktik artistik melalui berbagai workshop kreatif, seperti Art Station “Painting with Borrowed Light” pada tanggal 7 Februari 2026, sesi menggambar “Draw Us Closer” yang dipandu oleh Indra Setiawan pada tanggal 14 Februari 2026, hingga Family Gateway “Make a Stylized Doll” yang diselenggarakan pada 1 Maret 2026. Beragam aktivasi ini menjadi bukti bahwa pengarsipan maestro bisa dirayakan dengan cara yang partisipatif dan menyenangkan bagi seluruh lapisan generasi.

Pameran “Segue 3: Amang Rahman – Emanasi” terbuka untuk publik di Orasis Art Space hingga 19 April 2026. Seluruh informasi mengenai program publik serta pemesanan tiket dapat diakses melalui akun Instagram resmi @orasisartspace.

Leave a comment