Pamolèan: Kaburnya Batas Seni dan Hidup di Babad Lembâna 5

ART | FESTIVAL | SUMENEP | 2025

Oleh Vini Salma Fadhilah

Memasuki tahun kelima, repertoar Babad Lembâna hadir kembali di Lembâna Artgroecosystem, Sumenep, Madura, pada 14 sampai dengan 20 Desember 2025 dengan tajuk “Pamolèan”. Dalam filosofi Madura, Pamolèan merujuk pada alamat pulang: rumah asal sebagai tempat bermula sekaligus bermuara. Pamolèan di sini juga tidak terbatas hanya pada elemen spasial, melainkan juga pada elemen spiritual, yakni menyusuri kepulangan pada diri dan ingatan kolektif; sebuah trajektori kepulangan.

Tentang Babad Lembâna

Babad Lembâna adalah repertoar yang diposisikan bukan hanya sebagai festival seni, melainkan juga sebagai sebuah hajatan sosial selama tujuh hari yang memusatkan perhatian pada interaksi antarsubjek melalui karya seni, ruang spesifik, objek keseharian, dan warga Lembâna. Diselenggarakan setiap minggu kedua Desember sejak 2021, hajatan ini berfungsi sebagai metode riset kultural untuk membaca lanskap sejarah, kosmologi, dan koreografi sosial Madura, sekaligus memikirkan bagaimana memori dan praktik lokal dapat menjadi basis pembayangan masa depan.

Dengan mengadopsi logika sosial masyarakat Madura, Babad Lembâna dijalankan melalui prinsip gotong royong. Seni dibaca sebagai proses yang selalu berlangsung dalam relasi sosial, dengan gotong royong dipahami sebagai mekanisme untuk merawat relasi sosial tersebut.

Seluruh program Babad Lembâna dirancang untuk mempertemukan pengalaman dan cara bertemu yang beragam, yang mencakup pameran, pertunjukan, lokakarya, diskusi, ceramah, pemutaran film, tur, dan kenduri.

Tentang Babad Lembâna 5

Babad Lembâna 5 mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan lewat program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dalam skema MTN Presentasi Seni Pertunjukan. Program ini hadir sebagai wadah pengembangan talenta seni budaya Indonesia, dengan pendampingan yang terarah dan inklusif untuk memperluas jangkauan karya dari tingkat lokal hingga internasional.

Selain itu, kegiatan ini turut mendapat dukungan dari beragam inisiatif seni, institusi, serta komunitas kebudayaan yang berasal dari berbagai daerah. Babad Lembâna juga merupakan bagian dari Antarragam Jejaring Garasi Performance Institute, sebuah akademi pertunjukan dan simpul antarragam praktisi seni pertunjukan di Indonesia.

Tentang “Pamolèan”

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di awal, dalam filosofi Madura, Pamolèan merujuk pada alamat pulang: rumah asal sebagai tempat bermula sekaligus bermuara. Pamolèan diposisikan sebagai poros tematik sekaligus perangkat metodologis untuk menelisik ulang lanskap sosial-kultural Madura yang kompleks dan lintas identitas. Dalam pembacaan ini, Madura dihadirkan sebagai ruang rimpang—sebuah medan perlintasan sejarah, ingatan, dan praktik budaya yang terus bersilang, bernegosiasi, dan membentuk konfigurasi identitas yang tak pernah final.

Tidak hanya sebagai pijakan tematik, Pamolèan juga digunakan sebagai pijakan artistik untuk membaca lanskap sosial-kultural Madura yang terus bergerak dan berlapis. Madura dipahami sebagai ruang yang tak pernah tunggal—terbentuk dari sejarah perlintasan dan negosiasi identitas lintas batas. Dalam konteks ini, Pamolèan berfungsi sebagai metode pelacakan sejarah, sebuah koordinat ingatan yang menandai jejak perjalanan subjek Madura dalam arus waktu.

“Babad Lembâna 5 memandang Madura sebagai ruang rimpang: tempat lintasan sejarah, ritus, dan praktik artistik lintas wilayah–lintas konteks saling bertaut. Melalui ruang rimpang itulah kami menelusuri jalan pulang. Pamolèan kami ajukan sebagai jalan pulang yang tidak nostalgik, melainkan reflektif: upaya membaca ulang jejak diri, warga, dan kebudayaan yang terus bergerak dan belum khatam. Di hajatan ini, seni(man) kami ajak pulang pada kerja keseharian yang menyatu dengan dapur, makam, musyawarah, doa, dan perjumpaan warga. Dengan Pamolèan, kami mengikhtiarkan seni sebagai metode merawat relasi—antara manusia dengan tanahnya, sejarahnya, dan sesamanya. Dalam kepulangan yang bercabang ini, kami percaya perjumpaan relasional dapat membuka kemungkinan arah bersama yang lebih mengakar dan berkelanjutan.” (Ragil C. Maulana, direktur artistik Babad Lembâna 5)

Tentang Partisipan

Babad Lembâna 5 melibatkan lebih dari 70 seniman, pembuat film, pegiat teater dan tari, peneliti, serta partisipan lintas disiplin, termasuk dua seniman asal Jepang. Mereka datang dari beragam wilayah di Indonesia—mulai dari Aceh, Lampung, Gresik, Sumenep, Surabaya, Jambi, Bali, Makassar, hingga Jayapura—membentuk jejaring praktik yang melampaui batas geografis.

Para seniman dan partisipan tersebut diposisikan sebagai Sahibul Hikayat: para perawi yang menyampaikan narasi melalui praktik artistik masing-masing. Keragaman latar dan pendekatan ini membuka medan pertemuan gagasan yang luas, memperkaya dialog budaya, serta menghidupkan hajatan sebagai ruang belajar kolektif yang dinamis.

Mengalami Babad Lembâna 5

Saya dan beberapa teman yang berangkat bersama dari Surabaya tiba di Lembâna pada dini hari, di hari terakhir Babad Lembâna 5. Saat kami datang, sebagian orang telah terlelap, sementara yang lain masih mengobrol di beranda rumah. Beberapa pengunjung dari kota lain bahkan baru tiba satu atau dua jam sebelum kami. Lembâna masih setengah terjaga—sunyi, namun tidak sepenuhnya diam.

Meski mata masih berat, saya bersama seorang teman menyempatkan diri mencicipi Kopi Pagi Nyi Muna, sebuah rutinitas yang mengawali hari selama Babad Lembâna 5. Kedai kopi sederhana milik Nyi Muna ini hanya buka dua jam setiap pagi, dari pukul enam hingga delapan. Kopi yang disajikan adalah kopi kasar, dengan pilihan gula atau tanpa gula.

Kopi Pagi Nyi Muna – dokumentasi Readesign Magazine

Duduk di beranda rumah Nyi Muna bersama beberapa orang yang terlibat dalam Babad Lembâna 5, kami menyaksikan warga lalu-lalang di jalan depan rumah. Ada yang mengantar anak sekolah, ada yang berangkat ke ladang dengan sepeda motor, ada pula mobil bak terbuka berisi ibu-ibu. Meski berbeda tujuan, mereka berbagi satu kebiasaan yang sama: menyapa. Sebuah senyum, anggukan kepala, atau bunyi klakson singkat—gestur kecil yang kian jarang saya jumpai di kota besar.

Di beranda rumah Nyi Muna juga hadir karya Pingky Ayako, salah satu seniman Babad Lembâna 5 asal Surabaya. Karya ini berupa buku catatan berilustrasi yang berfungsi sebagai kamus bahasa sehari-hari Madura dan Jepang pada separuh bagiannya. Pada separuh lainnya, siapa pun yang singgah dan duduk di beranda Nyi Muna dipersilakan menuliskan kata yang ingin mereka terjemahkan ke dalam kedua bahasa tersebut.

Senam Kebugaran Jamet sempat disebut sebagai salah satu program dalam rangkaian Babad Lembâna 5. Namun pagi itu, kegiatan tersebut tidak tampak. “Sejak hari pertama memang belum terlaksana,” ujar Athia H. Alamanda, Direktur Program Babad Lembâna 5, ketika kami berbincang sambil menikmati Kopi Pagi Nyi Muna.

Usai sarapan yang dimasak penuh cinta oleh Mama Lembâna, kami berjalan agak jauh menuju sebuah rumah warga. Pekarangan rumah itu disulap menjadi panggung pertunjukan Teater Samana dengan tajuk Pada Sebuah Pekarangan. Latar perbukitan yang padat oleh pepohonan, sawah, dan ladang jagung menjadi latar alami pertunjukan. Properti yang digunakan sederhana—benda-benda keseharian seperti kursi santai, gayung, pot tanaman, dan dot bayi. Pertunjukan ini dimainkan oleh empat aktor, dengan satu di antaranya berperan sebagai narator.

Dari pertunjukan tersebut, saya menangkap sebuah upaya menghadirkan potret ideal tentang keluarga. Pertunjukan kemudian ditutup dengan sesi partisipatoris yang melibatkan penonton dan warga. Kami dipersilakan bergantian berfoto bersama para aktor, mengubah postur tubuh mereka, bahkan mengurangi jumlah aktor dalam bingkai foto. Sebuah penutup yang mengaburkan batas antara tontonan dan keterlibatan.

Sebelum makan siang, kami berjalan kembali menuju Lembâna sambil singgah di sejumlah titik karya yang tersebar di sepanjang perjalanan. Satu per satu karya diperkenalkan beserta konteksnya—mulai dari karya individu, kolektif, hingga karya yang ditempatkan di area perbukitan. Perjalanan itu terasa seperti membaca lanskap, bukan sekadar melihat karya.

Setibanya di atas bukit, kami duduk melingkar di sekitar sebuah makam tua di tepi lereng, dengan sebuah pohon purba berdiri tepat di depannya. Tak ada yang mengetahui pasti siapa yang dimakamkan di sana, namun warga Lembâna mempercayainya sebagai makam nenek moyang. Nisannya berupa batu stalagmit. Di tempat itulah Ragil C. Maulana selaku Direktur Artistik Babad Lembâna 5 bersama Raymizar, seorang sejarawan, bertutur tentang sejarah Lembâna, Madura, serta naskah Babad Lembâna—cerita yang terasa menyatu dengan ruang tempat kami duduk.

Agenda selanjutnya adalah Majelis Dramaturgi, sebuah forum diskusi yang pembahasannya bersifat kolegial. Dengan demikian, tidak terdapat figur pembahas tunggal dalam forum ini. Yang dihadirkan hanyalah pemantik diskusi, sementara setiap peserta musyawarah memiliki ruang untuk turut menyumbangkan pandangan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Musyawarah ini dirancang sebagai upaya kolektif dalam memproduksi sekaligus mendistribusikan pengetahuan yang bersumber dari beragam latar.

Di malam hari, Babad Lembâna 5 secara seremonial ditutup dengan penampilan dari Karin dan Iqbal, kemudian Ratu Party Selatan.

Selama lebih dari 24 jam mengalami Babad Lembâna 5, saya merasa siapa pun yang datang ke Lembâna bukanlah sekadar penonton, melainkan bagian dari ekosistem hajatan itu sendiri. Kaburnya batas antara seni dan hidup, seniman dan penonton, salah satunya terasa melalui karya-karya seni rupa partisipan yang ditempatkan di bentang alam sekitar Lembâna. Tak ada label yang menandai bahwa benda-benda tersebut adalah karya seni. Mereka menyatu, membaur, dan merespons keadaan sekitar serta ruang tempat mereka hadir.

Pendekatan ini barangkali melatih kepekaan kita terhadap lingkungan. Gambar dengan medium arang di dinding, gambar di atas kertas yang ditempel di rumah warga, di pos ronda, di antara semak-semak, atau di tebing—karya-karya itu bisa hadir di mana saja. Tak ada lampu sorot yang menegaskan keberadaannya. Bahkan, pakaian yang tergantung di jemuran pun bisa saja dibaca sebagai bagian dari karya seni. Siapa yang tahu?

Satu hal tentang kepulangan yang terus saya refleksikan sepanjang perjalanan menuju Lembâna dan kembali ke Surabaya adalah kepulangan pada ritme alami tubuh. Di sepanjang jalan, kami melewati banyak ruas tanpa lampu penerangan. Gelap. Di antara hamparan ladang jagung dan pepohonan hutan, satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu sorot mobil kami dan kendaraan lain yang kebetulan melintas.

Sebagai seseorang yang sehari-hari hidup di kota besar, pikiran pertama yang muncul adalah bahwa saya tentu tidak bisa ngopi hingga larut malam di kafe jika tinggal di sini. Namun, pertanyaan lain segera menyusul: apa yang sebenarnya saya lakukan ketika ngopi sampai larut malam di kota? Jawabannya hampir selalu berkaitan dengan pekerjaan—mengejar tenggat, menyelesaikan urusan, atau membangun jejaring yang kelak juga akan berujung pada kerja.

Di Lembâna, malam dihabiskan warga di dipan-dipan beranda rumah. Ngopi menjadi kegiatan yang sangat lokal—di rumah sendiri atau bersama tetangga terdekat. Jalanan yang gelap mungkin memang menyisakan persoalan infrastruktur, tetapi dalam bernegosiasi dengan keadaan itu, warga seolah tak memaksakan diri untuk beraktivitas jauh dari rumah ketika hari telah gelap. Seperti ada kesadaran bersama bahwa malam adalah waktu tubuh beristirahat—waktu untuk pulang pada ritme alaminya, tanpa harus memaksa diri terus terjaga demi sesuatu yang dikejar-kejar.

Leave a comment