WOF Wooden : Kerumitan dalam Kesederhanaan

PRODUCT | FURNITURE | MALANG | INDONESIA | 2023

Kami berkesempatan untuk berbincang dengan Binsar Singgih Priandika, pendiri WOF Wooden, sebuah studio desain dan produsen furnitur yang berbasis di Malang. Ketertarikan kami untuk mengulas studio ini datang setelah kami membaca cerita mengenai salah satu produk mereka, Chisai Stool, yang terinspirasi dari salah satu budaya duduk masyarakat Indonesia yaitu menggunakan dingklik (bangku pendek atau bangku mini).

Binsar memulai WOF Wooden dengan membuat produk wooden lettering on the wall (ornamen tulisan kayu di dinding) pada tahun 2016 ketika ia masih menempuh studi Desain Produk Industri di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, ia kembali menjalankan WOF di tahun 2020 dan memutuskan untuk membuat WOF menjadi studio desain serta produsen furnitur. 

Produk-produk yang dirancang dan diproduksi oleh WOF Wooden terinspirasi dari budaya lokal dan Asia. Sebagai contoh, desain Chisai Stool yang dikembangkan dari keterkaitan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia yang menggunakan ‘dingklik’ atau bangku mini. Fenomena penggunaan dingklik ini akan lebih sering terlihat digunakan oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan. Misalnya di dapur umum dalam pesta-pesta rakyat, para ibu yang memasak di dapur akan duduk di depan tungku menggunakan dingklik. Begitu pula dengan orang-orang yang masih menggunakan dapur tradisional; menggunakan tungku.

Chisai Stool – foto oleh WOF Wooden.

Meskipun dekat dengan masyarakat tradisional di pedesaan, Binsar mengatakan bahwa target pasar dari produk Chisai ini justru masyarakat modern yang sudah melek terhadap desain. Ia ingin mengenalkan kembali furnitur yang dekat dengan kebiasaan dan kebudayaan orang Indonesia dengan mengemasnya ke dalam desain yang kontemporer.

Secara visual, desain-desain WOF Wooden terinspirasi dari gaya desain arsitektur tradisional Jepang yang dominan menggunakan material kayu sebagai struktur utama. Karenanya, produk-produk WOF menggunakan material utama kayu solid. Konsep gaya desain Jepang ini kemudian diteruskan ke dalam penamaan produk-produk WOF—seperti Chisai Stool yang diambil dari kata chisai yang berarti mini dalam bahasa Jepang, taku yang berarti rumah, dan sebagainya. Namun, Binsar juga mengungkapkan bahwa mereka tidak terlalu berfokus pada filosofi nama produk-produknya melainkan esensi produk itu sendiri.  

WOF Wooden selalu berfokus pada fungsi—tidak membebani produknya dengan elemen dekoratif dan ornamen yang tidak perlu. “Kami percaya bahwa setiap produk memiliki kebebasan untuk dapat menjadi apapun seperti yang dibutuhkan oleh penggunanya. Memberikan cukup ruang untuk bisa disesuaikan dan beradaptasi merupakan filosofi dari produk-produk yang kami buat.” (WOF, 2023, wawancara mengenai koleksi Padanan dalam jurnal yang diterbitkan oleh Taman Hayat). 

Sampai saat ini, WOF Wooden sudah memiliki sekitar sepuluh seri desain furnitur yaitu Mori, Taku, Kihon, Chisai, Shi, Meka Desk, Nakaba Table, Bunkatsu, Heikou, dan Gengai Shelf. Semua produk ini dapat dilihat di katalog yang dapat diakses dari tautan di profil instagram WOF. Selain itu, mereka juga menyediakan layanan custom furniture design yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan (customer).

Furnitur-furnitur WOF tersedia dalam dua pilihan material yaitu kayu sungkai dan kayu meranti serta empat pilihan finishing yaitu natural light, teak brown, walnut brown, dan matt black. Aksesoris pelengkap seperti bantalan (cushion) mereka sediakan dengan dua pilihan warna kain yaitu light cream dan dark grey.

Selain seri-seri yang disebutkan di atas, WOF Wooden juga sudah memiliki beberapa produk kolaborasi dan mengikuti beberapa kegiatan kolaboratif serta ekshibisi. Di antaranya WOF menjadi bagian dari salah satu pameran yang termasuk ke dalam rangkaian acara Bintaro Design District 2022. Produk kolaborasi terbaru mereka adalah produk plant podium dan side table. Kedua produk ini termasuk ke dalam koleksi Padanan, kolaborasi WOF Wooden bersama Taman Hayat. 

Taku Bench dalam proyek Redu House karya SPOA Architecture
(BDD 2022) – foto oleh WOF Wooden.

Pada bulan Juli lalu, WOF Wooden berkolaborasi dengan Bramantya Arief dalam acara Hoca Fest yang berlokasi di Kotäsk Kaffe & Co, Malang. Di acara tersebut WOF memamerkan produk-produknya. Masih di bulan yang sama, WOF menjadi kolaborator dalam pameran Bares Kures yang diselenggarakan oleh Renmeraki Architect. Di acara tersebut, Santos (seniman) merespon Kihon Stool.

Kihon Stool yang direspon oleh Santos dalam pameran Beres Kures – foto oleh WOF Wooden.

Hal menarik lainnya dari WOF Wooden menurut kami adalah pengolahan material residu yang mereka buat menjadi produk-produk baru seperti book-ends dan tatakan gelas (coaster). Material hasil pemotongan yang sudah tidak bisa digunakan untuk menjadi bagian produk furnitur dimanfaatkan dengan cukup kreatif; fungsional dan tetap memiliki nilai estetika. Selain menguntungkan secara ekonomis, hal ini dapat mengurangi sampah produksi dari industri furnitur.

Meskipun secara sekilas terlihat sederhana, produk-produk WOF Wooden telah melalui proses riset dan pengembangan (research and development) yang rumit. Hal ini bisa dilihat dari komponen-komponen furnitur yang didesain sedemikian rupa sehingga para pembeli bisa merakit sendiri tanpa pengetahuan teknis khusus dan bisa dikemas ke dalam bentuk datar (flat-packed). Lagi-lagi, selain menguntungkan secara ekonomis—karena volumenya menyusut—kemasan datar (flat-packed) ini juga mengurangi sampah yang dihasilkan dari kemasan yang besar.

One response to “WOF Wooden : Kerumitan dalam Kesederhanaan”

  1. […] studio desain dengan ciri khas estetika minimalis yang berbasis di Malang dan pernah kami ulas di artikel sebelumnya, merilis seri furnitur baru bertajuk EVN. Pada seri furnitur EVN, WOF berkolaborasi dengan House of […]

    Like

Leave a reply to Fungsi dan Keindahan yang Merata dalam EVN, Seri Furnitur Kolaborasi WOF Wooden dan House of Zama – Readesign magazine Cancel reply